Selamat datang pada situs Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjsama Rantau. Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat
Jumat, 10 September, 2010

Developed By Sathish

SlideShow Pro

Saudara berada pada Menu: Home

Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau. Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat
PDF Cetak E-mail
Rabu, 11 Agustus 2010 04:02

Sumbar Menuju Swasembada Daging

Sumatera Barat sejak 2005 silam dipersiapakan menjadi satu dari 18 provinsi di Indonesia sebagai daerah pendukung swasembada daging nasional. Alasannya, antara lain, karena beternak merupakan salah satu budaya tertua di Minang. Hal itu bisa dilihat dari konstruksi rumah adat Minangkabau yang menyediakan kolong 2,5 hingga tiga meter.

Kolong berfungsi sosial dan ekonomi. Diantaranya, untuk tempat memasak dan persiapan kenduri. Untuk menyimpan padi, gudang kayu api atau bahan bahan bangunan, termpat bermain anak-anak dan jadi kandang ternak, sapi, kuda, kambing, itik dan ayam. Karena itu kolong juga disebut kadang. Status sosial seseroang juga dilihat dari jumlah dan jenis ternak yang dimiliki. Bahkan sebuah nagari dianggap makmur apabila pertanian, dan peternakannya sukses sesaui dengan ungkapan padi manguniang, jaguang maupiah, taranak bakambang.

*****

Berangkat dari potensi budaya beternak itu dan didukung ketersediaan lahan untuk 3 juta ternak sapi Pemda Sumatera Barat sejak Gubernur/Wakil Gubernur Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman melalui Dinas Peternakan, sejak awal pemerintahannya Agustus 2005 silam memang menjadi peternakan sebagai satu program proriotas. Maka dialkukanlah kersajasama antara Dinas Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Balai Penyelidikan Penyakit Ternak, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Peternak dan sebagainya. Kemudian dibangun pula Balai Inseminasi Buatan bernama Tuah Sakato di Payakumbuh. Balai Pembibitan Ternak Unggul di Padang Mengatas Kabupaten Limapuluh Kota.

Selanjutnya...
 
PDF Cetak E-mail
Rabu, 04 Agustus 2010 15:10

Biro Kerjasama Rantau Terus Memantau Rantau

Sebagai biro administrasi pembangunan dan kerjasama rantau, tugas dan tanggung jawab biro ini cukup berat karena ia memiliki tugas ke luar dan ke dalam. Menghimpun potensi rantau, diidentifikasikan dan memilah bagian-bagian yang mungkin disinerjikan antara daerah dan rantau

***

Tidak hanya secara formal atau fisik, tetapi juga bagaimana kita membangun Sumatera Barat secara general. Sejauh ini, yang bisa kita lakukan selain di bidang ekonomi juga dalam hal sosial budaya,” ungkap Suhermanto Raza, Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau kepada Majalah Rantau.

Secara ekonomi, menurutnya, potensi Rantau bisa dimanfaatkan untuk pembangunan Sumatera Barat ke depan. Misalnya lahan pertanian yang bisa dijadikan perkebunan, disini membutuhkan dukungan perantau. Dalam dunia perbankan, BPR bisa ada di tiap nagari. “Kita harus memikirkan bagaimana keberadaan BPR di nagarinagari ini berkembang dengan sentuhan perantau. Sejauh ini, kita lihat memang sudah banyak perantau yang terlibat dalam BPR, bagaimana ke depan lebih banyak lagi. Dan mereka tidak raguragu berinvestasi di kampungnya,” jelasnya.

Selanjutnya...
 
PDF Cetak E-mail
Rabu, 04 Agustus 2010 14:14

RANTAU JUGA BERPERAN DALAM PILKADA

Bagaimana peranan rantau dalam Pilkada di Sumatera Barat ? Inilah yang termasuk dapat apresiasi Ketua KPU Pusat. Ada yang khas di Sumbar. Rantau ternyata memainkan peranan dalam Pilkada. Hubungan yang khas kampung halaman-rantau ini sudah dirasakan sejak lama dalam berbagai kegiatan pembangunan kemasyarakat di Sumbar.

***

Gebu Minang adalah salah satu pengejawantahan betapa institusi rantau sangat memberikan arti terhadap jalannya pembangunan di Sumatera Barat. Dalam perantauan pernagari saja misalnya, banyak kegiatan pembangunan nagari yang didanai dan dirancang dari rantau. Hubungan kampung halaman dengan perantauan itu tak putus oleh jarak dan administrasi pemerintahan. Buktinya, meskipun mereka berdiam di rantau, tetap saja jika ditanya : “Kampuang dima?” (kampungnya dimana?) akan dijawab dengan menyebutkan nagari mereka masingmasing.

Selanjutnya...
 
PDF Cetak E-mail
Selasa, 27 April 2010 03:18

Sumando, “Luka” Islam di Minangkabau

Oleh Fachrul Rasyid HF

Ada kisah sedih yang ditulis Saudara Anwar dalam tulisan berjudul Luka Kultural Lelaki Minang, (harian Singgalang, 5 Agustus 2007 silam). Anwar melukiskan, begitu beranjak balig lelaki Minang harus tidur di surau. Setelah dewasa pergi merantau. Ketika secara ekonomi sudah mapan ia beristri dan jadi sumando tinggal di rumah gadang, mungkin juga bertani dan membangun rumah di atas tanah pusaka kaum si istri. Dalam posisi seperti itu “sumando” tunduk di bawah kendali istri dan si istri tunduk di bawah kendalai mamak.

Bagi yang mampu memboyong istri, lalu, membangun rumah di rantau. Di situ lelaki Minang mungkin bisa sepenuhnya jadi suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya. Karena itu agaknya banyak lelaki Minang kekal di rantau dan atau menikah dengan wanita etnis lain.

Bagi yang tak mampu, setidaknya kala tua kembali ke kampung menetap di rumah gadang. Beruntung kalau tenaganya masih kuat dan penghasilannya memadai dan anak-anak masih kecil. Jika tenaga sudah uzur dan penghasilan terbatas dan anak-anak pada berkeluarga, lelaki Minang akan tergeser dari rumah dan tanah pusaka. Kalau masih bertahan, ia akan ditempatkan di bagian “belakang”. Dan setelah meninggal jasadnya dikembalikan dan dimakamkan di pemakaman keluarga asalnya.

Selanjutnya...
 
PDF Cetak E-mail
Minggu, 18 April 2010 18:14

WAWANCARA DENGAN DR. SAAFROEDIN BAHAR:

Matrilinial di Simpang Jalan?

Membicang Minangkabau masa depan tak kan cukup waktu sehari. Tapi paling tidak menggambarkan apa saja yang akan dihadapi generasi Minang di masa depan, sebaiknya dilaksanakan sekarang. Dr. Saafroedin Bahar, Anggota Komnas HAM yang turut membidani kelahiran LKAAM tahun 1966 merisaukan tentang masa depan Minangkabau itu. Berikut petikan wawancaranya dengan Eko Yanche Edrie dari Majalah Rantau:

***

Apakah masih relevan saat ini menyebut 'indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan' dalam konteks adat Minang?

Pepatah kan mengatakan bahwa ada empat jenis adat, adat nan sabana adat; adat nan diadatkan; adat nan teradat; dan adat istiadat. Jadi yang 'indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan itu adalah sebagian saja dari keseluruhan adat. Sudah barang tentu, yang akan 'indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan' hanyalah 'adat nan sabana adat', karena esensinya adalah hukum alam itu sendiri. Yang lain memang dirancang dan memberi tempat untuk perubahan.

Selanjutnya...
 
Artikel Lain...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 2

Login

Polling

Menurut anda, Fitur apa yang perlu diperbaiki?
 

Counter Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday10
mod_vvisit_counterYesterday131
mod_vvisit_counterThis week403
mod_vvisit_counterLast week529
mod_vvisit_counterThis month705
mod_vvisit_counterLast month2230
mod_vvisit_counterAll days17898

Online (20 minutes ago): 2
Your IP: 38.107.191.99
,
Today: Sep 10, 2010

Kelok Sembilan


Get the Flash Player to see this player.